You

p_20170130_220048_1Di buku ini, diceritain tentang ungkapan cinta big monkey kepada little monkey. Apapun dan gimanapun kelakuan little monkey, big monkey tetep cinta.

“I love EVERY bit of you, and this I know for sure… I love you more and MORE!”

Paling suka adegan di lembar terakhir, big monkey sama little monkeynya berpelukan di atas pohon menghadap ke matahari yang tenggelam dengan latar langit merah muda =)

Di cover belakangnya ada peringatan, sebaiknya buku ini dibaca dengan bimbingan orang tua. Mungkin karena ga jelas hubungan antara Big monkey dan little monkey itu apa, perlu peran orang tua untuk mendefinisikan Big Monkey itu Ibu atau ayah sementara Little monkey adalah anaknya =)

You ini salah satu judul dari love seriesnya Emma Dodd. Saya suka bangeeet seri buku ini. Karena selain ceritanya yang manis banget, gambar ilustrasinya juga saya suka.  Saking sukanya, saya sampai beli dua versi buku: hardcover sama broadbook. Yang ternyata di seri yang hardcover ada semacam efek embossnya yang bikin ilustrasinya tambah kece.

 

 

 

 

Perpustakaan kota Amsterdam

Perpustakaan kota Amsterdam terletak sekitar 800 meter dari Amsterdam central station, sehingga untuk berkunjung ke perpustakan ini, kami (saya dan teman) hanya  berjalan kaki dari stasiun dan membutuhkan  waktu sekitar 15 menit. Dari luar, saya sudah terpesona dengan gedung yang tinggi dan  megah seperti mall atau perkantoran 🙂

Amsterdam Library

Memasuki dalam gedung, saya  merasakan perpaduan antara modernitas dan kreativitas. Denting piano terdengar begitu indah, saya fikir awalnya itu adalah lagu dari CD  ternyata ada seseorang yang memainkan piano. Whuaaa,, baru kali ini saya memasuki perpustakaan yang menyediakan piano untuk dimainkan siapapun ^^.

IMG_20160312_115254

Membaca dengan iringan piano. Betah lah berlama-lama

Mata saya dimanjakan dengan  detail interior serta parkit lantai kayu juga desain  kursi dan sofa  yang unik. Di lantai dasar ini, yang paling mencolok  lampunya yang seperti ikatan atom-atom 😀 Selain ada piano, di lantai dasar ada koleksi khusus anak juga meja dan kursi -komputer untuk berselancar di dunia maya. Hanya saja untuk menggunakan komputer atau fasilitas internet di perpustakaan ini, mesti login dan kata teman saya sih mesti bayar.

IMG_20160312_115300

Lampu seperti ikatan atom, menurut saya, bagaimana menurut kamu?

 

Di lantai dasar terdapat koleksi berbagai jenis majalah, dan keren banget penataannya. bertrap-trap gitu, diantara trapnya disediakan meja dan kursi 😀

IMG_20160312_115353

Bertrap-trap Magazine departement

IMG_20160312_115443

Unik banget ruangan khusus membacanya atau study room

IMG_20160312_115546

Pemandangan lantai dasar dari trap-trap magazine departement

IMG_20160312_115524

Keren kan bangunan perpustakaannya…ngayal kapan Indonesia punya bangunan semacam ini

Menapaki lantai 1, untuk koleksi /CD/DVD terdapat film auditorium, listening studio, dan tempat belajar.

IMG_20160312_115727.jpg

Koleksi film

IMG_20160312_115810

Tepat buat nonton, cinema auditorium

IMG_20160312_115823

Di dalam cinema auditorium

Lantai dua, untuk koleksi buku-buku fiksi baik itu fiksi berbahasa belanda ataupun bahasa lain, fiksi untuk remaja dan dewasa, komik dan audiobooks. Uniknya di lantai ini,  terdapat museum reve, memamperkan beberapa buku yang tampaknya sudah berumur. Sayangnya  buku-buku tersebut berbahasa belanda, dan saya tidak mengetahui mengapa  dipajang di museum. Tapi konsep museum dalam perpustakaan menarik banget.

IMG_20160312_120221

Museum diantara rak-rak buku

IMG_20160312_120228

Buku dan artikel yang dipamerkan di museum

Kemudian di level 3 untuk koleksi travel/history terdapat buku-buku yang termasuk ke dalam kategori language&literature, fairy tales, poetry, plays, geography, atlasses, language course, travel plaza dan library museum. Saya penasaran sama kategori buku plays, isinya buku tetang berbagai jenis permainan, bukan permainan games di handphone ataupun permaianan online tentunya. Di level 4 untuk art/musik terdapat kategori architecture, photography, arts&crafts, sheet music, dance-theater and film, music plaza dan live radio. Di level 5 untuk health/study room terdapat kategori mathematics&informatics science, physics&chemistry, biology, botany and zoology, medicine, sports and games, cookery books, agriculture and horticulture, technology and transport, civil engineering, health plaza, hobby plaza, NL plaza, science center. Di level 6 untuk philosophy/society/conference center/IHLIA terdapat kategori libraries&archieve museum, encyclopedia, almanacs and yearbook, press and media, religion, politics,  (business) economy, law and military studies, physiology, educational and teaching, government information. Sayangnya saya hanya sekilas saja menelusuri lantai 3 sampai 6 ini.

IMG_20160312_120307

Tempat berdiskusi. Ini bukan cafe lhoo…. Ini perpustakaan, sungguh.

IMG_20160312_120527

Pojokan yang nyaman untuk membaca

IMG_20160312_120537IMG_20160312_120547IMG_20160312_120552

IMG_20160312_120557

Perpaduan rak tradisional dan modern 😀

IMG_20160312_121355

Kursi warna warni untuk melihat membaca sekaligus untuk melihat pemandangan

IMG_20160312_121350

Pemandangan dari perpustakaan

IMG_20160312_121431

Pemandangan dari perpustakaan

 

IMG_20160312_122311

Menghabiskan waktu seharian di perpustakaan, ga perlu khawatir kalau kelaparan tinggal menuju lantai 7 terdapat restoran yang nyaman.

IMG_20160312_122335

Menuju restaurant

 

IMG_20160312_122412

IMG_20160312_122415

Restaurant di lantai 7

 

Kalau pengen tahu lebih banyak tentang perpustakaan ini,bisa langsung meluncur ke    websitenya, atau bisa juga dipantau twitter, facebook dan instagram. Oke banget kan 😀

Ga nyesel rasanya berkunjung ke perpustakaan ini, malahan nyeselnya kenapa ga bisa berlama-lama disini. Hiks.

 

 

Perpustakaan Universitas Wageningen

Perpustakaan Universitas Wageningen, Belanda terletak di Forum Bulding. Dari luar gedung, tidak terlihat ada perpustakaan karena gedungnya tidak hanya diperuntukkan untuk perpustakaan saja, tetapi untuk fasilitas pendidikan (seperti pelayanan administrasi perkuliahan, ruang komputer) dan restoran.

IMG_20160311_123028

Forum Building

Setelah memasuki gedung kemudian naik satu lantai, kita dapat dengan mudah menemukan ruang untuk perpustakaan karena  kaca-kaca besar di sekeliling ruang perpustakaan juga tulisan  LIBRARY di lantai dua.

IMG_20160311_110415

Pintu masuk perpustakaan

Ketika memasuki perpustakaan, saya merasa sangat nyaman dan hangat karena efek interior kayu di dalamnya sementara untuk alasan suistainability building concrete di ruangan ini, dibiarkan tanpa cat.

Terlihat, banyak mahasiswa yang sedang belajar. Kata temena saya, kalau sedang musim ujian, perpustakaan dibuka sampai tengah malam dan biasanya penuh, sampai tak ada tempat untuk duduk. Padahal di laintai 4, khusus disediakan ruang belajar yang isinya hanya kursi dan meja untuk belajar tanpa ada rak-rak buku.

IMG_20160311_103751

IMG_20160311_105615

Suka sekali view perpustakaan ini 🙂

Saya suka tempat fotocopy dengan mural di dindingnya 😀

This slideshow requires JavaScript.

Dari data yang saya dapatkan dari annual report,  banyak sekali yang mengunjungi perpustakaan ini. Dibandingkan dengan jumlah peminjam dan buku yang tersedia perbandingannya masih jauuuuh lebih banyak bukunya daripada peminjamnya. Sama dengan universitas di Jerman, buku bisa dipinjam sampai dengan 4 minggu.

library

Nilai tambah bagi perpustakaan ini,  punya media sosial seperti twitter dan facebook 🙂

Toko Buku Wittwer

IMG_20160229_103832Selalu menyenangkan rasanya setiap menghabiskan waktu di toko buku. Setiap pergi ke suatu tempat baru, saya berusaha untuk meluangkan waktu ke toko bukunya-meski sebentar saja. Begitupun ketika pertama kali menjejakkan kaki di kota Stuttgart, di pekan pertama saya sudah mengunjungi toko buku ini, tapi karena sebagian besar buku berbahasa Jerman, saya kurang tertarik mengeksplore lebih, hanya terhambat di lantai pertama, dimana buku-buku berbahasa Inggris tersedia.

Spot buku berbahasa Inggris

Namun, ketika saya harus mencari hadiah -yang terpikir hanya memberi buku- maka saya dibuat terpesona oleh toko buku Wittwer (atau dalam bahasa Jerman buchhaus Witter) merupakan toko buku terbesar di kota Stuttgart yang terletak sangat trategis di pusat kota, tepatnya di Jalan Königstr. 30, jadi sangat dekat dengan stasiun utama kota dan schlossplatz yang menjadi salah satu icon pariwisata kota Stuttgart.

IMG_20160229_101025

Toko buku ini terdiri dari 4 lantai, dimana lantai dasar  buku-buku kriminal, bahasa -termasuk buku-buku berbahasa Inggris,  dan remaja. Lalu di lantai pertama tersedia buku romance, hobi yang terkait dengan musik-film dan buku tentang budaya. Kemudian di lantai dua terdapat buku travelling, hobi,  desain dan arsitektur.  Selanjutnya, lantai tiga diperuntukkan buku anak-anak, kesehatan, dan kehidupan. Dan lantai empat  penuh dengan buku ilmu pengetahuan, pelajaran dan berbagai keahlian.

Meski sebagian besar terdiri atas buku yang tidak saya mengerti bahasanya, namun saya betaaaah sekaliiii belama-lama disini.

Pertama, desain perpustakaan dibuat seperti layaknya sebuah rumah. Jadi disetiap bagian buku dengan tema yang berbeda akan  didesain  menyesuaikan dengan tema tersebut, seperti rumah yang mempunyai ruangan yang fungsinya berbeda tapi tanpa sekat. Akan mudah mengetahui tema buku tersebut dari berbagai aksesoris yang terpajang di sekeliling buku. Misalnya buku tentang makanan, terdapat buah tomat betulan juga roti-yang bohongan-, sementara di daerah buku tentang travelling digantung sepatu travelling. Menarik sekali memperhatikan detail aksesoris dari berbagai tema buku. Rasanya, NIAT banget…untuk mendisplay buku dengan sangat menarik. Sebenarnya sudah keliatan niatnya dari display buku  di etalase depan tokonya ada ban yang super dupeeeerdupeeer gede (ini toko ban apa toko buku, hehehe :D)

IMG_20160229_101101

This slideshow requires JavaScript.

Bahkan, desain tellernyapun dibuat tidak seragam, yaa tentunya disesuaikan dengan tema di lantai tersebut  😀 Ohyah, rata-rata kasirnya ga nunggu terus di kassa, biasanya dia sambil beres-beres buku juga. Jadi, kalau ada berdiri di depan kassa mau bayar bukunya… baru deeeh… kasirnya muncul :D. Teruuuuus, ternyataaa… pas saya minta harganya dilepas karena buat hadiah, kasirnya otomatis bungkusin bukunya sama kertas kadoooo (padahal saya ga minta), gratiiiis! Ah, suka sekali dengan pelayanan orang-orang di sini -yang sedia membantu bila diminta dan  setiap berbelanja pasti dibilangin sama kasirnya hallo, terus pas beres “Danke, tschüss” (Terimakasih, sampai jumpa).

This slideshow requires JavaScript.

Kemudian, Disetiap bagian, disediakan tempat duduk yang sangat nyaman untuk membaca 🙂 Ada kursi yang dedesain seperti ruangan di rumah gituuu… yaaa… membuat orang seperti berada di rumah sendiri. Pas di buku-buku yang termanya kebun, kursi yang dipajanng juga kursi kebun. Pas temanya buku anak, kursinya yaaa disesuaikan untuk anak-anak penuh dengan boneka :D, pas tema travelling, kursinya…kursi santai kaya dipantai….  Ohyah, setiap buku, minimal satu buku telah dilepas sampulnya dan boleh dibaca. Boleh bangeeet berlama-lama duduk sambil baca, ga bakalan ada yang negur. Karena saya datang hari kerja, jadi banyaaaak bangeet kursi-kursi yang nganggur. Tapi emang banyaak siiih kursi-kursinya.

This slideshow requires JavaScript.

Saya merasa, toko buku ini sangat lapang, saya bisa bergerak dengan leluasa melihat-lihat buku… benar-benar sangat diperhatikan arus lalu lalang orang-orang dengan bagaimana penempatan rak dan kursi.

IMG_20160229_110300

Luas banget jalannya, sepadet apapun, ga mungkin bikin orang dempet-dempetan

Mungkin untuk oranng Jerman, toko buku ini termasuk yang lengkap bangeet buku-bukunya… namun buat sayaaa… kuraaang, karena ga ada buku berbahasa Indonesia, hehehee 😀 Masih mencari toko buku yang menyediakan buku-buku berbahasa Inggris yang lebih banyak dan lebih variatif.

 

 

 

Hadiah dari Proyek Cinta Perpustakan

Yeayyyy,  dapet hadiah dari Ira karena ikutan proyek cinta perpustakaan. Padahal yaaa…padahal… berasa kurang bangeet menyebarkan virus cinta perpusnya…hiks. Sebagai rasa terimakasih saya, saya berjanji buat cerita tentang perpustakaan di Jerman dan sekitarnya 🙂 Dimanapun, mesti cinta perpustakaan kaaan ; )

Hadiah  bukunya sudah diterima oleh sang Teman yang sama-sama nunggu launching seri supernova terakhir. Whuaaa, seneng bangeeet… pengen bisa bacaaa bukunyaaa….

IMG-20160226-WA0000IMG-20160226-WA0004

Terimakasih banyak juga buat bonus pulpen cantiknya 🙂

Semoga proyek cinta perpusnya langgeng dan semakin banyak blogger yang berkontribusi meramaikan proyeknyaaa….

*Salampenuhcintaaa….

♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Jejak Mata Pyongyang

Jejak mata Pyongyang

Kota Pyongyang itu sendiri misalnya, meskipun bagi warga Jakarta seperti saya sungguh-sungguh tanpa warna, memang seperti reprentasi ‘keteraturan’, ‘ketertiban’, dan yang paling tidak enak tentu ‘keseragaman’.

Sejauh saya masih mengingatnya, Pyongyang itu serba kelabu dan serba lenggang, dan sekaligus serba seragam pula….. Sepanjang jalan hanyalah gedung-gedung kelabu serabag dan kompleks apartemen yang meski tidak seperti yang dikenal sebagai ‘apartemen’ di Jakarta, jelas di atas rumah susun untuk rakyat seperti di Tanah Abang

Tulisan di buku ini, merupakan  oleh-oleh dari Seno Gumira Aji Darma ketika diundang ke Korea Utara untuk menjadi juri pengganti Festival Film Internasional Pyongyang ke-8 pada tahun 2002. 10 tahun yang lalu, tentunya  sudah menjadi kenangan, bagian dari sejarah, namun bisa jadi  waktu  tak merubah wajah  kota Pyongyang beserta masyarakatnya mengingat negara ini masih tertutup  dan kondisi politik disana yang belum berubah, bilapun berubah, buku ini masih menarik untuk kita jelajahi karena tak hanya bertutur tentang pengalamannya selama bertugas tujuh belas hari di Pyongyang, SGA juga melengkapi buku ini dengan foto-foto 🙂

Dari awal, ketidakbebasan dirasakan oleh SGA, meskipun menjadi tamu negara, SGA merasa segala gerak-geriknya diawasi, selain  oleh penterjemah yang selalu menempel . Beliau juga bercerita tentang Hotel Yanggakdo yang terletak di tengah delta Sungai Taedong, di sebuah pulau Yanggak sehingga jika ingin keluar dan masuk hotel harus melalui  jembatan Yanggak. Seperti memang dirancang untuk membuat tamu  hotel terisolasi dan mudah diawasi. Menurut SGA, segala sesuatu di Korea Utara sangat terawasi oleh lembaga negara.

Kebebasan merupakan sesuatu yang langka di negara ini, bahkan untuk pakaian warganya, selama kunjungannya SGA tak pernah melihat penduduk Pyongyang berpakaian warna-warni,   atasan hampir selalu putih dan berlengan pendek terkecuali untuk  para penari atau penyambut tamu. Khusus untuk tarian dan kesenian, negeri ini memang bersungguh-sungguh untuk mendidik bakat seni agar dapat dipamerkan kepada tamu negara sehingga tamu negara sehingga memberikan kesan sebagai ‘komunis yang berbeda’ dengan selera artistik yang luar biasa tinggi. Selain itu, meskipun tidak ada larangan untuk mendokumentasikan wajah negeri ini, tetapi seringkali SGA tidak mempunyai kebebasan untuk memotret, seringkali penterjemah yang selalu bersamanya melarang SGA untuk memotret,  terutama mengabadikan wajah warga Korea Utara.

Selain itu, kebebasan untuk memiliki kepercayaan merupakan sesuatu yang ajaib, hanya ada 3% pemeluk Buddhisme, sisanya tidak beragama,

“Dahulu kala bangsa Korea kan jelas beragama, sejak kapan kepercayaan ditinggalkan?”

“Ketika kami dijajah Jepang, kami sangat menderita, dan kami semua berdoa terus menerus, tetapi perubahan tak kunjung tiba” jawab penterjemah itu, “maka Pemimpin Besar Kim Il-Sung berkata bahwa perubahan hanya bisa terjadi dengan usaha manusia. Jadi kami lebih percaya kepada manusia.”

Begitulah, percakapan yang diingat oleh SGA dengan penterjemahnya, mereka sangat mengagungnkan pemimpin besarnya-dan menganggapnya sebagai pemimpin abadi.

Rupa-rupanya propaganda, indoktrinasi, dan ujung-ujungnya agitasi, memang instrumen penting politik kepemimpinan RRD Korea

Tak hanya itu, pemerintah juga berusaha untuk membatasi informasi dan pikiran orang membuat rakyat percaya kepada apapun yang disampaikan negara.

Terus terang bukan atheisme yang mengganggu saya, sepanjang itu menjadi pilihan sadar yang bertanggung jawab dan konsekuen dengan segala resikonya; yang sangat saya terganggu adalah peranan negara sebagai pencuci otak dan pencetak cara memandang dunia seperti itu, tanpa yang menerimanya itu mampu bertanggung jawab, karena memang ‘beriman’ terhadap ideologi negara bukan berdasarkan pilihan berkesadaran.

Semua diatur, bahkan disana tidak ada yang bisa dibeli dengan uang, karena tidak ada perdagangan, yang ada hanyalah pekerjaan. Hanya untuk tamu negaralah uang digunakan.

Buku ini sebetulnya menarik untuk dibaca, hanya  saja sangat disayangkan, buku ini dituliskan setelah 10 tahun, sehingga SGA  mengakui  banyak kenangan yang telah memudar. Namun tetap salut untuk usaha SGA menggali berbagai ingatan tentang kota ini dan membagikan oleh-oleh ceritanya kepada kita semua.

Dalam buku ini, SGA menyinggung hotel Ryugyong, yang merupakan bangunan tertinggi di Korea Utara, belum rampung. Memang pada tahun 2002, pembangunan terhenti karena krisis ekonomi, namun, saat ini,  hotel tersebut sudah selesai pembangunannya  hanya saja  bersarkan berita pada tahun 2013, hotel ini belum beroperasi.

Buat saya, seperti yang dirasakan oleh SGA, setelah membaca buku ini, saya bersyukur tinggal di negeri dimana kita masih bebas untuk berfikir, berbendapat, menganut kepercayaan, mengekspresikan diri, sesuatu yang sangat sulit dilakukan di belahan negara lain.

Monument to the Three Charter for Nation Reunification

Monument to the Three Charter for Nation Reunification (untuk mengisaratkan bersatu dengan bagian selatan)

Sesungguhnya sejarah mencatat, hanya ada satu kekaisaran Korea,  tidak ada Korea Selatan dan Korea Utara. Tetapi setelah Perang Dunia II, sekutu membagi Korea tanpa melibatkan pihak Korea menjadi dua bagian yang terpisah. Mungkinkah perbedaan ideologi dan perbedaan yang lainnya semakin memisahkan jauh antara Selatan dan Utara atau mungkinkah nanti, sejarah akan mencatat penyatuan negara ini, seperti yang terisirat pada monumen to the Three Charter for Nation Reunification ? Maka nanti mungkin, kita akan melihat wajah Pyongyang yang berbeda

Judul : Jejak Mata Pyongyang
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
ISBN 9789791770897
Halaman : 156
Penerbit : Muffin Graphics (PT Mizan Pustaka)
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, April 2015

…Postingan ini, diikutkan dalam, Asia Pacific History Reading Challenge 2015 dan Non-Fiction Reading Challenge 2015

Mendidik Anak Sukses ala China

battle-hymn-of-the-tiger-mother-cara-mendidik-anak-agar-sukses-cara-china

“Mommy ibu yang mengerikan.Egois. Tidak peduli apa-apa kecuali diri sendiri. Apa-Mommy tidak percaya betapa tidak bersyukurnya aku? Setelah semua yang Mommy lakukan untukku? Semua yang Mommy bilang Mommy lakukan untukku sebenarnya Mommy lakukan untuk diri sendiri.”

Begitulah yang dikatakan Lulu, anak kedua dari Amy Chua sebagai puncak dari pemberontakan dari didikan ala China Ibunya yang super keras. Sebelumnya Lulu seringkali tidak patuh terhadap Ibunya yang menuntutnya untuk latihan piano, bahkan meskipun alat musiknya diganti dengan biola, Lulu menunjukkan perlawanan atas segala pemaksaan yang dilakukan Ibunya ketika mengharuskannya latihan biola lebih lama atau bermain biola ketika liburan atau ketika harus memainkan biola di hari specialnya. Tapi, sebagai Ibu China, Amy tak pernah mengalah dan menganggapnya sebagai sebuah pertempuran. Meski pun begitu, Lulu selalu mendapatkan prestasi membanggakan di sekolah .Berbeda dengan Lulu, Kakanya Sophia sangat penurut dan memenuhi semua rencana dan ambisi ibunya sehingga menjadi anak yang membanggakan dan menuai banyak pujian.

Buku ini, merupakan sebuah memoar Amy Chua, seorang Ibu imigran keturunan China di Amerika yang mendidik kedua anaknya dengan ala-China. Meskipun Amy Chua seorang professor yang menyenangkan bagi mahasiswanya di sebuah universitas Yale, tidak untuk kedua anaknya. Berbagai peraturan ketat diterapkan, seperti halnya orang tua China yang melarang anak-anaknya untuk menginap di rumah teman, janjian bermain bersama teman-teman, ikut drama di sekolah, mengeluh karena tidak diizinkan ikut drama di sekolah, menonton TV atau main game kompoter, memilih kegiatan ekstrakulikuler sendiri, mendapat nilai di bawah A, tidak mendapat nomor satu di setiap pelaaran kecuali olahraga dan drama. Ibu China percaya bahwa tugas sekolah selalu menempati urutan pertama, nilai A minus itu jelek, anak-anak harus mencapai taraf penguasaan matematika dua tahun di atas kemampuan teman-teman sekelasnya, orangtua tidak boleh memuji anak di depan orang lain, kalau anak sampai pernah berbeda pendapat dengan guru atau pelatih, orang tua harus membela guru atau pelatih, satu-satunya kegiatan yang boleh dilakukan adalah yang memungkinkan merek amemenangkan mendali dan mendalinya harus mendali emas. Menurut Amy, orang tua China punya dua keunggulan dibandingkan dengan orangtua Barat: pertama, cita-cita yang lebih tinggi untuk anak-anaknya dan yang kedua, rasa hormat yang lebih besar terhadap anak-anaknya dalam mengenal seberapa banyak hal yang mampu mereka pelajari. Oleh karena itu, Amy percaya sepenuhnya pendidikan ala China-seperti yang diterapkan orangtuanya padanya merupakan pola pendidikan yang sangat tepat dibandingkan dengan pendidikan barat. Menurutnya, terdapat tiga perbedaan besar antara pola pikir orangtua China dan Barat. Pertama, orang tua Barat luarbiasa cemas tentang harga diri anak-anak mereka, mereka prihatin tentang keadaan jiwa anak-anak mereka sementara orang tua China memegang teguh kekuatan dan bukan kerapuhan. Kedua, orangtua China yakin bahwa anak-anak mereka berhutang segalanya kepada mereka sehingga anak-anak China sepanjang hidupnya harus membalas budi kepada orang tua mereka dengan mematuhi dan membuat orang tua mereka bangga. Dan yang ketiga, orang tua China yakin mereka tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka dan oleh sebab itu mengabaikan semua keinginan dan pilihan anak-anak mereka.
Maka sangat wajar bila tidak ada waktu untuk berleha-leha atau bersenang-senang atau bermain bagi kedua anaknya, setiap saat mereka selalu sibuk,mengerjakan berbagai tugas selain berlatih keras dengan alat musik yang dipilhkan oleh Ibunya, piano untuk Sophia dan biola untuk Lulu.
Mereka dituntut bukan hanya sekedar bisa tapi bisa mecapai prestasi dan melakukan yang terbaik sejak usia dini juga untuk berlaku sesuai kesopanan. Tidak satu hari pun mereka membolos latihan, bahkan pada hari ulang tahun mereka atau di hari mereka sakit, dan pada hari berlibur sekalipun. Bukan hanya memberikan les tambahan atau menghadirkan guru musik yang hebat,bahkan ditengah kesibukan pekerjaannya, Amy meluangkan waktu mengantarkan anaknya dan mengawasi dengan sangat ketat waktu mereka berlatih alat musik tersebut dan tak segan-segan mengecam atau menghina permainan anaknya.Tak segan-segan Amy mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk mendukung anaknya mencapai prestasi juga memberikan pesta yang mewah untuk merayakan keberhasilan anaknya tersebut.

Buku ini memberikan jawaban, bagaimana anak-anak China dapat mencapai prestasi yang mencengangkan sejak dini, bagaimana seorang Ibu menempa mental anaknyam enjadi mental juara-yang pantang menyerah dan melipat gandakan usaha dan kerjakeras. Meskipun tampak “sangat tega” terhadap anak, tapi saya yakin orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. –Termasuk Amy Chua yang yakin dengan kerasnya didikan sejak dini, anak-anaknya akan menuai masa depan yang gemilang. Karena didikan orang tuanya mengantarkan dirinya dan juga saudara-saudaranya menjadi sesosok yang berhasil. Dalam buku ini, diceritakan bukan hanya anak saja yang bekerja keras tetapi Ibu juga. Meski harus melewwati “peperangan” dengan anaknya atau bahkan dengan suaminya.

“Tujuan Mommy sebagai orang tua adalah menyiapkan kalian untuk masadepan-bukan untuk membuat kalian suka pada Mommy.”

“Segala sesuatu yang saya lakukan sudahjelas 100% untuk kepentingan kedua putri saya. Bukti yang paling kuat, begitu banyak upaya yang saya lakukan untuk Sophia dan Lulu menyengsarakan, meletihkan dan jauh dari menyenangkan untuk saya sendiri.”

Dari buku ini saya juga belajar bahwa tidak semua pola asuh bisa diterapkan dengan tepat untuk semua anak. Hal ini dicontohkan, dengan suksesnya didikan China untuk anak pertamanya tapi Amy harus berdamai dengan keduanya. Ketika Lulu menginjak remaja dengan memberikannya sentuhan didikan Barat yang percayaakan pentingnya pilihan pribadi, berkacapada ayahnya Amy yang merasa tidak cocok dengan didikan China dari orang tuanya sehingga memutuskan pergi jauh dari keluarganya dan membenci keluarganya.

Banyaksekali quote di bukuini yang sayasuka, dan nilai plusnya, dibuku ini quote tersebut diberikan tandakhusus

“Hidup ini begitu singkat dan begitu rapuh, tentunya kita masing-masing harus berusaha memberi sebanyak mungkin makna pada setiap tarikan napas kita, setiap detik dari waktu yang berlalu.”

Didikan keras atau lunak bukan merupakan parameter tanda cinta atau sayang orang tua pada anaknya. Jadi jangan pernah menjudge para orang tua yang membesarkan anaknya dengan cara yang berbeda dari lingkungan pada umumnya.
Salut untuk para Ibu di seluruh dunia.

 

Judul : Battle Hymn of The Tiger Mother : Mendidik Anak agar Sukses ala China
Penulis : Amy Chua
Penterjemah : Maria Sundah
ISBN 9789792270822
Halaman : 248
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit
: Cetakan Kedua, Desember 2011

…Postingan ini, diikutkan dalamn Non-Fiction Reading Challenge 2015